Selasa, 01 April 2008

Mendidik Anak di Rumah

Anak yang baik dan berbakti tentu akan menjadi dewa penolong dan pemanis kehidupan orang tuanya, sedangkan anak yang durhaka akan menjadi duri dalam daging yang menimpakan aib dan kesusahan bagi orang tua.
Anak-anak yang baik dan berbakti tidak terbentuk dari sekedar kebetulan atau hanya karena kedua orang tuanya baik. Mereka menjadi anak-anak yang baik bukan karena terlahir dengan pembawaan dan karakter yang sudah jadi alias dari sononya. Mereka menjadi anak yang baik dan berbakti karena pendidikan yang diperkenalkan atau diajarkan oleh kedua orang tuanya di rumah, oleh gurunya di sekolah dan pergaulan di lingkungan sekitarnya.
Dari semua lingkungan pendidikan yang saya sebutkan di atas, peran pendidikan di rumah menjadi faktor yang paling penting dan menentukan dalam membentuk karakter seorang anak. Mengapa demikian? Karena rumah adalah sekolah pertama mereka. Dari rumahlah mereka pertama kali mengenal dunia, mengenal kata, dan mengenal benda. Di rumah juga mereka mengenal kehidupan dan tingkah laku orang-orang terdekat yang mereka sayangi dan kagumi, kedua orang tuanya, setiap hari.
Dalam sebuah hadist yang sangat kita hapal, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Karena itu, sangat penting bagi orang tua memperhatikan pendidikan anak-anaknya di rumah mereka sendiri. Pendidikan disini bukan dalam arti sempit, yaitu mengajarkan anak-anak secara lisan seperti di sekolah. Pendidikan disini harus diartikan secara luas, baik secara lisan, seperti mengajarkan menyanyi atau do’a, maupun pendidikan lain, yaitu sikap dan tingkah laku orang tua, termasuk komunikasi dan interaksi yang kita bangun di rumah, baik terhadap si anak sendiri maupun anggota keluarga lainnya. Inilah yang kita sebut sebagai keteladanan.
Seringkali keteladanan berupa sikap dan tingkah laku anggota keluarga di rumah menjadi faktor yang justru paling banyak menentukan karakter anak-anak kita ketimbang ajaran-ajaran moral yang hanya kita sampaikan lewat lisan kita setiap hari. Meskipun setiap hari kita memberikan ceramah moral sampai berbusa-busa, tetapi jika anak tidak mendapatkan contoh nyata pada kehidupan kedua orang tuanya, maka cermaha-cermaha itu hanya menguap dalam ruang hampa tanpa internalisasi yang kuat dalam memori mereka.
Apalagi untuk anak-anak kecil atau balita yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Bagi mereka, sikap dan tingkah laku yang diperlihatkan oleh orang tuanya adalah pelajaran hidup yang akan selalu ditiru dan diingat dalam memori mereka. Apa yang kita perbuat dan kita ucapkan di depan mata mereka akan langsung terekam dalam memori mereka dan mereka akan berusaha menirunya semampu yang mereka bisa.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita sebagai orang tua berusaha memanfaatkan waktu terbaik kita di rumah dengan membangun komunikasi dan interaksi yang positif terhadap anak-anak kita. Terutama dengan memberikan teladan lewat sikap, tutur kata dan perbuatan yang bisa mereka jadikan contoh terbaik dalam perkembangan kehidupan mereka.

Tanggung Jawab Siapa?
Seringkali kita salah kaprah menempatkan tanggungjawab terhadap pendidikan anak-anak kita di rumah. Sudah lazim di kalangan kita meletakkan tanggungjawab mendidik anak di rumah hanya pada isteri. Apalagi jika si isteri tidak bekerja.
Padahal, pendidikan anak-anak di rumah adalah tanggung jawab kedua orang tuanya. Bukan hanya ibunya, tetapi juga ayahnya. Memang, untuk para ibu yang tidak bekerja di luar rumah, mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anaknya, tetapi itu bukan berarti melepas begitu saja kewajiban seorang ayah untuk juga mendidik anak-anaknya. Kedua orang tua harus bekerja sama dalam mendidik anak-anaknya, sejak anak-anaknya masih bayi hingga dewasa.
Seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah tentu memiliki waktu yang sangat panjang di dalam rumah. Ia bisa memanfaatkan dan mengatur sendiri waktunya dalam mendidik anak-anaknya. Selain berinteraksi dengan si kecil di dalam rumah, ia bisa mengajak si buah hati berkunjung ke rumah tetangga atau membawanya ke majelis taklim.
Membawa anak keluar dari rumah banyak sekali manfaatnya. Anak bisa bersosialisasi dengan anak-anak tetangga seusianya. Ia juga bisa melihat betapa akrab dan bersahabatnya ibunya dengan para tetangga. Tapi ingat, kehadiran Anda di rumah tetangga jangan dimanfaatkan untuk bergosip atau bergunjing, karena perbuatan tercela itu pun akan tersimpan dalam memori anak kita.
Ibu yang bekerja di luar rumah memang tidak memiliki waktu yang banyak untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Tetapi bukan berarti ia tidak bisa mendidik anaknya dengan efektif. Masa-masa di rumah, jika dimanfaatkan dengan baik untuk membangun komunikasi dan interaksi yang positif dengan si buah hati akan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian dan karakternya.
Hal yang sama berlaku pula pada ayah. Seorang ayah bisa ikut terlibat dalam pendidikan anak-anaknya di rumah dengan banyak cara. Ia bisa memanfaatkan saat-saat berada di rumah untuk memeluk si kecil, mengajarkannya shalat, mengaji, do’a-do’a pendek dan membacakan buku cerita.
Ketika isteri kita sudah lelah karena seharian mengurus dan mendidik anak-anak , tidak ada salahnya kita manfaatkan waktu istirahat sepulang kantor untuk menggantikan posisi isteri kita menemani anak-anak sebelum tidur. Kita bisa membacakan buku cerita atau memilihkan pensil warna sambil menemani mereka menggambar.
Jika sebelum maghrib atau sebelum isya kita sudah ada di rumah, tidak ada salahnya kita mengajak mereka shalat di masjid. Jika waktu pulang kita sudah lewat dari waktu isya, kita bisa menjadi imam shalat mereka, meskipun mereka hanya mampu mengikuti satu dua gerakan saja.
Waktu selepas shalat pun bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan mereka mengaji. Untuk anak-anak yang masih balita, kita mungkin tidak perlu mengajarkannya secara formal, meskipun banyak anak-anak di usia dua tahun sudah bisa diajarkan huruf al-Qur’an. Kita cukup mengaji sendiri sambil memanggku si kecil. Kita juga bisa menggunakan lidi penunjuk agar dipegang oleh si kecil. Selanjutnya tangan si kecil itulah yang kita gerakkan untuk menunjuk letak ayat-ayat yang sedang kita baca. Hal ini bisa mengalihkan perhatian si kecil dan mengenalkan mereka pada huruf-huruf Hijaiyyah.
Di tempat tidur, kita bisa mengajarkannya menghapal surat-surat pendek atau do’a-do’a harian. Anak-anak yang baru bisa berbicara pun akan sangat mudah menghapalnya jika setiap malam kita lakukan terus menerus sebelum mereka tidur. Bahkan, jangan heran jika suatu waktu si kecil justru menyerobot bacaan Anda, karena ia ingin membaca lebih dulu daripada mengikuti bacaan Anda.
Pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya sangat sepele, tetapi implikasinya akan sangat besar bagi perkembangan pengetahuan dan spiritual si anak. Anak-anak yang terbiasa melihat kedua orang tuanya beribadah akan membuat mereka terbiasa dan mudah meniru ucapan dan gerakan-gerakan dari setiap ibadah. Bagitu juga hapalan ayat-ayat pendek dan doa yang kita biasakan setiap menjelang tidur, akan terus membekas dalam ingatan mereka sampai mereka dewasa.

Diskusikan Hal-hal Prinsipil
Selain harus bekerja sama dan terlibat aktif sesuai porsinya masing-masing, kedua orang tua juga harus kompak dan memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak-anak mereka. Jangan sampai mereka berbeda pandangan, karena perbedaan pandangan dalam mendidik anak akan menimbulkan masalah di tengah jalan. Hal itu tentu akan mengganggu tercapainya tujuan dari pendidikan yang kita berikan. Bahkan, bisa jadi pendidikan yang kita berikan gagal atau tidak sesuai dengan harapan kita.
Oleh karena itu, kedua orang tua hendaknya mendiskusi masalah ini jauh sebelum kelahiran anak mereka, sehingga ketika si buah hati sudah lahir, mereka tinggal menjalankan apa yang telah mereka sepakati. Kesepakatan itu memang tidak harus rigid atau ketat, tetapi menyangkut hal-hal yang sangat prinsipil dan penting. Misalnya, sejauh mana hukuman fisik yang boleh kita berikan kepada anak.
Mungkin contoh seperti ini tampaknya sepele. Padahal, dalam prakteknya, seringkali suami isteri bertengkar sendiri hanya karena salah paham dalam menyikapi hukuman yang diberikan oleh pasangannya terhadap anak mereka. Dan kasus seperti ini banyak sekali terjadi. Akibatnya, tujuan pendidikan dalam rumah tangga yang hendak mereka capai justru berantakan, karena yang kemudian terekam dalam memori si anak justru pertengkaran kedua orang tuanya itu. Ini tentu saja kontraproduktif bagi perkembangan mental dan kepribadian seorang anak.
Selain itu, setiap hari atau satu minggu sekali, hendaknya setiap pasangan suami isteri memiliki waktu yang cukup untuk mendiskusikan perkembangan anak-anaknya. Mungkin saja ada hal-hal penting yang terjadi pada si kecil selama ayahnya di kantor.
Diskusi seperti ini bisa menjadi sarana evaluasi bagi setiap pasangan untuk melihat perkembangan anak-anaknya tahap demi tahap. Selain itu, diskusi seperti ini akan semakin memperkuat komitmen mereka dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan tujuan rumah tangga mereka yaitu menjadi keluarga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah dari Allah swt. (Ridwan)

Tidak ada komentar: