Minggu, 06 April 2008

BIJAK MENGHADAPI TELEVISI

Televisi kini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari masyarakat modern. Bukan hanya di kota, bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa televisi menjadi barang kebutuhan sehari-hari.

Lihat saja di sekitar kita. Rasanya, setiap rumah belum lengkap tanpa televisi. Bahkan di rumah kontrakan sekalipun, televisi sudah menjadi perlengkapan wajib yang harus tersedia. Sofa dan kompor tidak perlu dicari, asal televisi ada, sebuah rumah atau kontrakan terasa sudah lengkap.

Televisi memang bukan barang haram, tetapi disadari atau tidak, televisi memberikan banyak efek dan pengaruh negatif bagi penontonnya. Bukan tidak ada gunanya sama sekali, tetapi efek mudharatnya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Manfaat menonton televisi terletak pada hiburannya. Kalau pun ada unsur pendidikannya, rasanya kecil saja. Apalagi stasiun-stasiun televisi kita lebih memikirkan pasar ketimbang mutu. Jadi, jangan harap televisi kita lebih banyak menyajikan tontonan bermutu, apalagi mendidik.

Bukannya program televisi yang bermutu dan mendidik tidak ada, tetapi jumlahnya sangatlah kecil dibandingkan jumlah seluruh siaran televisi. Itu pun belum tentu banyak ditonton pemirsa, karena pada saat yang bersamaan lebih dari sepuluh chanel lain menyuguhkan program lain yang mungkin saja dianggap lebih menarik oleh penonton.

Bagi anak-anak, efek negatif televisi lebih besar lagi bahayanya. Apalagi jika tontonan yang tidak sehat disaksikan oleh anak-anak yang belum bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Contoh kasus yang mungkin masih hangat dalam ingatan kita adalah program tayangan Smack Down yang mengilhami banyak anak-anak untuk mencontoh aksi-aksi kekerasan yang sesungguhnya bohongan itu.

Bohongan atau tidak, bagi anak-anak, tayangan seperti itu sungguh mengasyikkan dan akan lebih mengasyikkan lagi jika mereka sendiri mempraktekkannya dengan teman-temannya. Maka berjatuhanlah korban-korban di berbagai daerah akibat tayangan sampah seperti itu. Alhamdulillah, tayangan itu akhirnya di-stop karena mendapat protes dari banyak pihak.

Puasa Televisi, Mungkinkah?

Mengingat begitu besarnya efek negatif televisi, terutama bagi anak-anak, sebenarnya langkah yang paling efektif untuk menekan efek negatif itu adalah dengan tidak menyalakan televisi sama sekali. Kalau perlu di rumah tidak perlu ada televisi. Tapi mungkinkah?

Mungkin saja. Jangan heran jika di zaman seperti ini masih ada keluarga yang dengan kesadaran penuh sengaja tidak membeli televisi. Bukan karena tidak punya cukup uang, tetapi mereka tidak mau televisi mengotori dan memenuhi otak anak-anak mereka dengan sampah tayangan televisi yang tidak sehat.

Penulis buku-buku keluarga dan parenting Islam, M. Fauzil Adhim, salah satu contohnya. Sebagai penulis buku-buku best seller rasanya mustahil beliau tidak memiliki cukup uang untuk membeli televisi. Tetapi beliau tegas menolak televisi di rumahnya. Dan beruntung ketegasannya didukung oleh isteri dan anak-anaknya.

Saya yakin tidak mudah bagi penulis buku laris Kupinang Engkau dengan Hamdalah dan isterinya menjelaskan kepada anak-anaknya betapa tidak ada gunanya televisi. Kalau kita berkomitmen kepada isteri, mungkin kita mampu. Tetapi kepada anak-anak? Pasti sulit memberikan pengertian kepada mereka. Apalagi teman-temannya di sekolah kebanyakan pecandu televisi.

Diet Televisi

Bagi kita yang belum mampu memutuskan hubungan dengan televisi sepenuhnya, maka kita harus menerapkan pengawasan yang ekstra ketat terhadap tayangan yang ditonton anak-anak, jika kita ingin meminimalisir pengaruh buruk televisi.

Saya terpaksa harus menekankan kata ‘meminimalisir’ karena memang hanya itulah hasil maksimal yang bisa kita lakukan jika kita masih menyediakan televisi di rumah. Tidak ada orang yang mampu memproteksi seratus persen pengaruh negatif televisi selama televisi masih ditonton.

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menerapkan diet televisi. Artinya kita harus bisa membatasi durasi atau lamanya waktu menonton. Waktu menonton maksimal untuk anak-anak adalah 2 jam setiap harinya. Jika anak-anak menonton lebih dari batas maksimal itu, berarti akan banyak waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk bermain dan membaca buku, terbuang dengan percuma. Karena itu, orang tua harus tegas mengontrol waktu menonton mereka.

Di sisi lain, orang tua jangan sampai memiliki jam menonton sendiri di luar jam menonton mereka. Artinya, jika jam menonton anak-anak sudah selesai, sementara waktu tidur mereka belum tiba, hendaknya orang tua menjadi panutan mereka dalam mematikan televisi. Orang tua bisa menemani mereka mengerjakan PR atau membaca buku bersama anak-anak. Jika tidak membantu mereka, orang tua bisa mengerjakan kegiatan rumah tangga lainnya.

Sangat tidak mendidik jika kita membatasi jam menonton, dengan mengusir mereka dari ruang televisi, sementara kita sendiri tidak beranjak dan asik mengganti-ganti chanel televisi yang kita sukai. Bagaimana mungkin mereka bisa menerima logika kita bahwa menonton tidak baik bagi mereka sementara bagi orangtuanya tidak ada masalah?

Karena itu, jika kita tegas terhadap jam menonton mereka, kita pun harus tegas terhadap kesenangan kita sendiri. Jangan sampai kita sendiri menampakkan diri di depan anak-anak sebagai orang yang keranjingan televisi atau keranjingan tontonan tertentu. Jika itu terjadi, mustahil anak-anak bisa meninggalkan ruang televisi dengan ikhlas dan merubah perhatiannya kepada yang lain.

Sayangnya, banyak orang tua yang justru bersaing dengan anak-anaknya dalam memilih chanel. Si anak suka sinetron A, sementara orang tua suka sinetron B. Yang lebih parah, jika anak dan orang tua memiliki acara kesayangan yang berbeda dengan jam tayang yang sama, keduanya bisa rebutan remote dan tidak mau saling mengalah. Na’udzu billah!

Banyak keluarga yang kadang mengambil jalan yang semakin fatal. Supaya tidak terjadi rebutan remote antar anggota keluarga karena acara kesenangan mereka diputar pada jam yang sama, maka diputuskanlah membeli satu televisi lagi yang diletakkan di ruang lain. Bisa di ruang makan atau di ruang tidur. Bahkan jangan heran jika ada keluarga yang setiap kamarnya memiliki televisi sendiri.

Kelihatannya menyenangkan, setiap orang bisa menonton acara kesukaannya sendiri-sendiri tanpa harus diganggu dengan berpindah chanel kesukaan orang lain. Orang tua tidak perlu pusing-pusing mengurusi anak-anak pada jam-jam menonton sinetron kesayangannya. Cukup suruh anak-anak nonton tayangan kesukaannya masing-masing di ruangan lain, semua sudah beres.

Beres? Kelihatannya memang beres. Tapi orang tua seperti ini tidak sadar, bahwa mereka sedang menumpuk sampah di otak anak-anak mereka. Satu televisi saja bisa membawa sampah tontonan yang luar biasa banyaknya, apalagi jika setiap ruang di rumah dipenuhi televisi.

Temani Anak Menonton

Selain membatasi durasi atau lamanya waktu menonton dalam sehari, orang tua juga harus mengatur jam-jam boleh menonton televisi, termasuk memilihkan tayangan apa saja yang layak mereka tonton.

Anak-anak pada dasarnya belum bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik. Memori mereka hanya mampu memamah semua informasi yang masuk kedalam otak mereka tanpa filter yang cukup. Karena itu, peran orang tua sangat penting memilihkan tayangan yang baik untuk mereka.

Selain memilihkan, orang tua juga seharusnya menemani anak-anak menonton, terutama anak balita. Apa pun jenis tayangan yang mereka tonton, termasuk filma kartun dan lagu anak-anak, kita tetap harus menemaninya. Karena hanya dengan menemaninya kita bisa melihat sendiri bagaimana tayangan yang dilihat mereka, sehingga ketika ada adegan-adegan tertentu yang butuh koreksi atau butuh penjelasan bisa segera kita jelaskan kepada mereka.

Dalam memberi penjelasan, kita harus melakukannya dengan penuh kasih sayang. Misalnya di televisi terdapat adegan anak yang memukul temannya, maka kita harus segera menjelaskan bahwa apa yang dilakukan tokoh di televisi itu tidak patut dicontoh oleh mereka.

Dengan menemani anak menonton dan memberi penjelasan kepada mereka, maka kegiatan anak dalam menonton dapat kita kontrol dan kita arahkan sesuai pengetahuan yang kita miliki. Akhirnya, semua kembali kepada kita orangtuanya. Jika kita tegas dalam memberi kesempatan menonton kepada anak-anak kita, termasuk tegas terhadap keinginan menonton dalam diri kita sendiri, insya Allah anak-anak kita akan mudah mengikuti apa yang kita putuskan. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar: